Followers

Thursday, August 25, 2011

PERJALANAN NABI KE THAIF



Kisah perjalanan Nabi ke bumi Thoif biasa kita dengar dan kita baca semenjak kita di bangku sekolah lagi. Ye la kan, dulu ustazah kita yang bacekan. Kita hanya angguk kemudian jawab soalan latihan yang disediakan dalam buku teks tersebut. Alhamdulillah apabila Allah dengan kasih sayang Nya memberikan kita hidayat untuk membuat usaha atas iman, ia sedikit sebanyak mengingatkan kita tentang apa yang dipelajari 12 tahun dahulu. Dan kita pula didorong untuk mengamalkannya apabila melihat betapa besarnya ganjaran seseorang yang menempa kepayahan dalam membuat usaha agama.

Kisah dakwah Nabi ke Thoif ini membawa penulis kepada memori manis kira kira 3 tahun dahulu ketika penulis membawa ramai rakan- rakan baru untuk menghadiri malam perhimpunan mingguan di Masjid Jame Sri Petaling.

Dan paling penulis ingat pembayan (tukang ceramah) adalah jemaah dari Belanda yang baru sahaja sampai dari bumi Australia untuk membuat usaha dakwah selama kira kira 4 bulan. Pembayan juga merupakan seorang ulama.

Dalam bayannya selain menceritakan sedikit sebanyak laporan di Australia, beliau juga menceritakan kisah agung Nabi kita ke Thoif sehingga membuatkan majmak (hadirin) menangis tersedu sedu. Suara tangisan hadirin yang lain memenuhi setiap ruang masjid besar ini sehingga Penulis juga termenangis mengenangkan penderitaan Nabi untuk hidayat . Allah..

kisahnya seperti berikut

Bukhari meriwayatkan dari Urwah, bahwa Aisyah ra. isteri Nabi SAW bertanya kepada Nabi SAW katanya: 'Adakah hari lain u, dan yang paling berat ialah apa yang aku temui di hari Aqabah dulu itu. Aku meminta perlindungan diriku kepada putera Abdi Yalel bin Abdi Kilai, tetapi malangnya dia tidak merestui permohonanku! 'Aku pun pergi dari situ, sedang hatiku sangat sedih, dan mukaku muram sekali, aku terus berjalan dan berjalan, dan aku tidak sadar melainkan sesudah aku sampai di Qarnis-Tsa'alib.


Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku terlihat sekumpulan awan yang telah meneduhkanku, aku lihat lagi, maka aku lihat Malaikat jibril alaihis-salam berada di situ, dia menyeruku: 'Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu tadi, dan apa yang dijawabnya pula. Sekarang Allah telah mengutus kepadamu bersamaku Malaikat yang bertugas menjaga bukit-bukit ini, maka perintahkanlah dia apa yang engkau hendak dan jika engkau ingin dia menghimpitkan kedua-dua bukit Abu Qubais dan Ahmar ini ke atas mereka, niscaya dia akan melakukannya!' Dan bersamaan itu pula Malaikat penjaga bukit-bukit itu menyeru namaku, lalu memberi salam kepadaku, katanya: 'Hai Muhammad!' Malaikat itu lalu mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril AS tadi. 'Berilah aku perintahmu, jika engkau hendak aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya aku akan lakukan!' 'Jangan... jangan! Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun... !', demikian jawab Nabi SAW.


Musa bin Uqbah menyebut di dalam kitab 'Al-Maghazi' dari Ibnu Syihab katanya, bahwa Rasulullah SAW apabila pamannya, Abu Thalib, meninggal dia keluar menuju ke Tha'if dengan harapan agar penduduknya akan melindunginya di sana. Maka beliau menemui tiga pemuka Tsaqif, dan mereka itu bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Khubaib dan Mas'ud dari Bani Amru. Beliau menawarkan mereka untuk melindunginya serta mengadukan halnya dan apa yang dibuat oleh kaumnya terhadap dirinya sesudah kematian Abu Thalib itu, namun bukan saja mereka menolakbeliau, tetapi mereka menghalaunya dan memperlakukan apa yang tidak sewajarnya.(Fathul Bari 6:198 - dari sumber Ibnu Ishak, Shahjh Bukhari 1:458, dan berita ini dikeluarkan juga oleh Muslim dan Nasa'i).

Abu Nu'aim memberitakan dengan lebih lengkapl dari Urwah bin Az-Zubair ra. katanya: Apabila Abu Thalib meninggal, maka semakin bertambahlah penyiksaan kaum Quraisy ke atas Nabi SAW Maka beliau berangkat ke Tha'if untuk menemui suku kaum Tsaqif dengan harapan penuh, bahwa mereka akan dapat melindunginya dan mempertahankannya. Beliau menemui tiga orang dari pemuka suku kaum Tsaqif, dan mereka itu pula adalah bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Kbubaib dan Mas'ud, semua mereka putera-putera dari Amru, lalu beliau menawarkan dirinya untuk diberikan perlindungan, di samping beliau mengadukan perbuatan jahat kaum Quraisy terhadap dirinya, dan apa yang ditimpakan ke atas pengikut-pengikutnya. Maka berkata salah seorang dari mereka: Aku hendak mencuri kelambu Ka'bah, jika memang benar Allah mengutusmu sesuatu seperti yang engkau katakan tadi?! Yang lain pula berkata: Demi Allah, aku tidak dapat berkatakata kepadamu, walau satu kalimah sesudah pertemuan ini, sebab jika engkau benar seorang Utusan Allah, niscaya engkau menjadi orang yang tinggi kedudukannya dan besar pangkatnya, tentu tidak boleh aku berbicara lagi kepadamu?! Dan yang terakhir pula berkata: Apakah Allah sampai begitu lemah untuk mengutus orang selain engkau? Semua kata-kata pemuka Tsaqif kepada RasuluUah SAW itu tersebar dengan cepat sekali kepada suku kaumnya, lalu mereka pun berkumpul mengejek-ngejek beliau dengan kata-kata itu.


Kemudian ketika beliau hendak pergi meninggalkan Tha'if itu, mereka berbaris di tengah jalannya dua barisan, mereka mengambil batu, lalu melempar beliau, setiap beliau melangkahkan kakinya batu-batu itu mengenai semua tubuh beliau sehingga luka-luka berdarah, dan sambil mereka melempar, mereka mengejek dan mencaci. Setelah bebas dari perbuatan suku kaum Tsaqif itu, beliau terlihat sebuah perkebunan anggur yang subur di situ. Beliau berhenti di salah satu pepohonannya untuk beristirahat dan membersihkan darah yang mengalir dari kaki dan tubuhnya yang lain, sedang hatinya sungguh pilu dan menyesal atas perlakuan kaum Tha'if itu.

Tidak lama kemudian terlihatlah Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah yang baru sampai di situ. Beliau enggan datang menemui mereka, disebabkan permusuhan mereka terhadap Allah dan RasulNya dan penentangan mereka terhadap agama yang diutus Allah kepadanya. Tetapi Utbah dan Syaibah telah menyuruh hamba mereka yang bemama Addas untuk datang kepada beliau membawa sedikit anggur untuknya, dan Addas ini adalah seorang yang beragama kristen dari negeri Niniva (kota lama dari Iraq). Apabila Addas datang membawa sedikit anggur untuk beliau, maka beliau pun memakannya, dan sebelum itu membaca 'Bismillah!' Mendengar itu Addas keheranan, kerana tidak pernah mendengar orang membaca seperti itu sebelumnya.

'Siapa namamu?' tanya Nabi SAW 'Addas!' 'Dari mana engkau?' tanya beliau lagi. 'Dari negeri Niniva!' jawab Addas. 'Oh, dari kota Nabi yang saleh, Yunus bin Matta!' Mendengar jawaban Nabi itu, Addas menjadi lebih heran dari mana orang ini tahu tentang Nabi Yunus bin Matta? Dia tidak sabar lagi hendak tahu, sementara tuannya Utbah dan Syaibah melihat saja kelakuan hambanya yang terlihat begitu mesra dengan Nabi SAW itu. 'Dari mana engkau tahu tentang Yunus bin Matta?!' Addas keheranan. 'Dia seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama kepada kaumnya,' jawab beliau. Beliau lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Nabi Yunus AS itu, dan sudah menjadi tabiat beliau, beliau tidak pernah memperkecilkan siapa pun yang diutus Allah untuk membawa perutusannya. Mendengar semua keterangan dari Rasulullah SAW Addas semakin kuat mempercayai bahwa orang yang berkata-kata dengannya ini adalah seorang Nabi yang diutus Allah. Lalu dia pun menundukkan kepalanya kepada beliau sambil mencium kedua tapak kaki beliau yang penuh dengan darah itu.


Melihat kelakuan Addas yang terakhir ini, Utbah dan Syaibah semakin heran apa yang dibuat sang hamba itu. Apabila kembali Addas kepada mereka, mereka lalu bertanya: 'Addas! Mari ke mari!' panggil mereka. Addas datang kepada tuannya menunggu jika ada perintah yang akan disuruhnya. 'Apa yang engkau lakukan kepada orang itu tadi?' 'Tidak ada apa-apa!' jawab Addas. 'Kami lihat engkau menundukkan kepalamu kepadanya, lalu engkau menciurn kedua belah kakinya, padahal kami belum pemah melihatmu berbuat seperti itu kepada orang lain?!' Addas mendiamkan diri saja, tidak menjawab. 'Kenapa diam? Coba beritahu kami, kami ingin tahu?' pinta Utbah dan Syaibah. 'Orang itu adalah orang yang baik, dia menceritakan kepadaku tentang seorang Utusan Allah atau Nabi yang diutus kepada kaum kami, 'jawab Addas. 'Siapa namanya Nabi itu?' 'Yunus bin Matta' jawab Addas lagi. 'Lalu?' 'Dia katakan, dia juga Nabi yang diutus!'Addas berkata jujur. 'Dia Nabi?!' Utbah dan Syaibah tertawa terbahak-bahak, sedang Addas mendiamkan diri melihatkan sikap orang yang mengingkari kebenaran Allah.


'Eh, engkau bukankah kristen?' 'Benar,'jawab Addas. 'Tetaplah saja dalam kristenmu itu! Jangan tertipu oleh perkataan orang itu!' Utbah dan Syaibah mengingatkan Addas. 'Dia itu seorang penipu, tahu tidak?!' Addas terus mendiamkan dirinya . Sesudah itu, Rasuluilah SAW kembali ke Makkah dengan hati yang kecewa sekali.
(Dala'ilun-Nubuwah, hal. 103)



(sumber)

KHAIRA UMMATIN DAN USAHA MENJAYAKANNYA BERDASARKAN SIRAH RASULULLAH SAW


OLEH:
MUHAMMAD ‘UTHMAN EL-MUHAMMADY
· Dalam hubungan dengan ayat:
كنتم خير امة اخرجت للناس _ال عمران 110
“Kamu umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk faedah umat manusia” dan seterusnya “kamu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah”
Maka dalam “Tafsir al-Qurtubi”
· dinyatakan bagaimana umat Islam terbaik di kalangan umat-umat manusia sebanyak tujuh puluh semuanya.
· Pada Ibn ‘Abbas rd: merujuk kepada mereka yang berhijrah dari Makkah ke Madinah dan menyaksikan perang Badar dan Hudaibiyah;
· Dilaporkan ‘Umar bin al-Khattab rd menyatakan bahawa sesiapa yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti mereka itu maka jadilah seperti mereka.
· Ada pendapat yang menyatakan mereka umat Nabi Muhammad saw, iaitu orang-orang yang soleh di kalangan mereka dan yang mempunyai kelebihan.Dan mereka yang menjadi saksi manusia di akhirat;
· Kata Mujahid rd : “Kamu umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia…” mengikut syarat-syarat yang tersebut dalam ayat itu;
· Ada pendapat yang menyatakan : maknanya kamu dealam Lauh al-Mahfuz
· Ada pendapat yang menyatakan: kamu bila kamu beriman menjadi umat yang terbaik…
· Antaranya bermakna kamu dengan terkedepannya kamu daripada ahlil-kitab adalah sebaik-baik umat
· dan al-Akhfash rh menyatakan: ahli bagi umat ini, sebaik-baik ahli agama.
· Dari Abu Hurairah rd terdapat riwayat “Kamu umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia” , katanya kamu menarik manusia dengan rantai kepada Islam.Kata al-Nahhas rh takdir mengikut huraian ini kamu bagi umat manusia semua sebaik-baik umat.
· Mengikut pendapat Mujahid rh kamu umat yang terbaik bila kamu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran .
· Ada pendapat yang menyatakan : umat Muhammad saw menjadi umat yang terbaik kerana Muslimin di kalangan mereka paling ramai, dan amar ma’ruf dan nahi munkar di kalangan mereka tersebar dengan meluas.
· Ada pendapat yang menyatakan: mereka sahabat rasulullah saw sebagaimana yang terkandung dalam maksud hadith “generasi yang terbaik generasiku” (qarni), iaitu yang aku dibangkitkan di kalangan mereka.
· Demikian seterusnya kelebihan mereka yang ada dalam dua atau tiga generasi selepas nabi saw.
· Diriwayatkan pula oleh Abu Umamah rd bahawa Nabi saw bersabda :
طوبى لمن رءانى و ءامن بى وطوبى سبع مرات لمن لم يرنى وءامن بى
Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, dan berbahagialah tujuh kali bahagia orang yang tidak melihatkyu walhal ia beriman kepadaku.
· Dan dalam “Musnad Abi Daud at-Tayalisi” terdapat riwayat dari ‘Umar rd katanya bahawa beliau duduk di sisi Rasulullah saw kemudian Rasulullah saw bertanya maksudnya :Siapakah yang paling afdhal sekali dari segi keimanan? Selepas para Sahabat menyebut para malaikat dan nabi, baginda bersabda:
افضل الخلق ايمانا قوم فى اصلاب الرجال يؤمنون بى ولم يرونى يجدون ورقا فيعملون بما فيه ويؤمنون بى ولم يرونى
“Makhluk yang paling utama sekali dari segi keimanan ialah kaum yang ada dalam sulbi para lelaki yang beriman denganku walhal mereka tidak melihatku, mereka mendapati helai-helai kitab kemudian mereka beramal dengan apa yang ada di dalamnya, mereka itulah makhluk yang paling utama dari segi keimanannya”
· Ringkasnya dalam “:Tafsir al-Qurtubi” dinyatakan bahawa dalam membuat kesimpulan tentang hadith-hadith berkenaan dengan bab ini ialah: generasi zaman nabi saw ada mempunyai keutamaan kerana mereka asing -ghuraba’- dalam keimanan mereka dengan ramainya para kuffar dan kesabaran mereka dalam menghadapi kesakitan, dan mereka terus menerus berpegang kepada agama mereka; dan mereka yang akhir dalam umat ini pula bila mereka itu mendirikan agama mereka dan berpegang kepadanya serta bersabar dalam mentaati Tuhan mereka dalam masa banyaknya kejahatan, kefasikan, dan pembunuhan yang tidak menentu (al-harj), serta kemaksiatan dan dosa-dosa besar, mereka juga menjadi orang-orang asing (ghuraba’) dan amalan-amalan mereka menjadi murni dan bertambah-tambah sebagaimana murni dan bertambah-tambahnya amalan mereka yang awal itu.Ini dibuktikan oleh hadith yang bermaksud “Islam bermula asing, dan ia akan kembali asing, maka berbahagialah orang-orang asing (ghuraba’)…”
Dalam “Tafsir Ibn Kathir” dalam hubungan dengan ayat ini terdapat kenyataan-kenyataan yang berguna seperti berikut, antaranya:
· Selepas menukil ayat yang bermaksud”kamu umat yang terbaik yang dilahirkan untuk faedah umat manusia, kamu menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran, dan kamu beriman kepada Allah; kalaulah Ahlil-Kitab itu beriman maka itu lebih baik bagi mereka; di kalangan mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka orang-orang yang fasik derhaka”, beliau menyatakan bahawa dengan ayat ini Allah memberitahu bahawa umat ini- umat Islam- adalah umat yang paling baik.
· dalam al-Bukhari ada riwayat dari Abu Hurairah rd “umat yang paling baik untuk umat manusia” iaitu kerana kamu menyeret umat manusia sehingga mereka masuk ke dalam Islam.
· Maknanya umat yang paling baik itu ialah umat yang paling bermenafaat bagi manusia.
· Ini pula diperkuatkan dengan hadith riwayat Durrah binti Abi Lahab yang menyatakan bila ditanya tentang manusia yang paling baik, Rasulullah saw menjawab di atas minbar”Manusia yang paling baik ialah yang paling tahu membaca Quran, yang paling bertaqwa kepada Allah, yang paling menyuruh kepada yang ma’ruf, yangt paling mencegah kemungkaran dan yang paling menghubungkan silatur-rahim”.
· Dalam hubungan dengan ini semua Ibn Kathir rh menyatakan bahawa yang sahihnya ialah maksud ayat ini ialah umum untuk semua umat Islam ini, tiap-tiap generasinya, dan generasi yang terbaik ialah generasi yang Rasulullah saw dibangkitkan di kalangan mereka kemudian mereka yang berikutnya kemudian mereka yang berikutnya.
Ciri-Ciri Umat Yang Terbaik
· Antaranya ialah menyuruh kepada kebaikan
· mencegah kemungkaran
· Beriman kepada Allah.
Yang menentukan kebaikan dan keburukan ialah kehendak Allah sebagaimana yang ada dalam Quran dan Sunnah dan perkara-perkara lain didasarkan kepada kias mengikut apa yang ada dalam keduanya sebagaimana yang terkenal dalam usul al-Fiqh dalam Ahlis-Sunnah wal-jamaah.
· Sebutan tentang keimanan terakhir itu bukan bermakna ianya terakhir dari segi kepentingannya; ianya disebut terakhir kerana yang kelihatan pada mata manusia ialah amalan-amalan lahiriah seperti amar ma’ruf dan nahi munkar;keimanan yang menjadi dasar kepada kedua-duanya.
· Dalam segi yang berbeza umat yang terbaik itu boleh dilihat dari segi keimanannya kepada Allah yang benar dan betul tanpa kesesatan, kesyirikan, dan kekufuran.Aqidahnya yang disepakati ulama umat ini ialah aqidah Ahlis-Sunnah wal-jamaah sebagaimana yang awalnya diajarkan oleh nabi saw dan para Sahabatnya, Aqllah meredhai mereka.Kemudian dihuraikan akidah ini oleh para ulama Ahlis-Sunnah yang datang kemudiannya.
· Umat terbaik ini juga boleh dilihat dari segi mereka melaksanakan tugas-tugas kerohanian dalam hubungan degan Tuhannya dan para makhlukNya.Ini antaranya jelas dari maksud ayat: “(Iaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang , menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang munkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan”.(al-hajj.41).
· Ini boleh dilihat dari segi orang perseorangannya dalam penghayatan hidup pengabdian kepada Tuhan dalam semua perkara sebagaimana yang ada dalam maksud doa iftitah orang yang melakukan sembahyang.dan memang ini bersesuaian denga matlamat kejadian manusia ialah untuk pengabdian kepada Tuhan (al-Dhariat.56).
· Umat terbaik ini juga boleh dilihat dalam akhlaknya yang mulia dan tinggi sebagaimana yang terkandung dalam maksud ayat :”:Demikianlah kami jadikan kamu umat menengah” (ummatan wasata) (al-Baqarah.143) yang memaksudkan umat yang adil dan pilihan.Dan nabi saw sendiri dipujikan oleh Allah berdasarkan akhlaknya sebagaimana yang terkandung dalam maksud ayat “Sesungguhnya akhlak tuan hamba adalah agung” (Nun.4).dan terkenal dalam hadith Abu Daud bahawa baginda diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (makarim al-akhlak).
· Umat terbaik ini juga boleh dilihat dalam ketaatannya kepada Hukum Ilahi yang datang dalam bentuk Syariat yang sempurna yang menyeluruh sifatnya.Ciri-cirinya ialah kesyumulan, keadilan, keseimbangan, perlaksanaan hak-hak pada tempatnya, kesediaan memberi tempat bagi perubahan-perubahan yang diperlukan oleh perubahan tamadun manusia, meletakkan sesuatu mengikut kedudukannya, kesesuaian dengan fitrah manusia dan hukum alam.Tidak ada sistem hukum yang boleh dibandingkan dengannya.
· Ketundukan umat terbaik ini kepada Hukum Islam tergambar dalam Quran dalam ayat yang bermaksud :”Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sehingga mereka menjadikan tuan hamba sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang tuan hamba berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(an-Nisa’.65).
· Umat terbaik ini juga kelihatan ciri-cirinya dalam persaudaraan yang dijayakan dalam zaman awal Islam sehingga melalui hubungan persaudaraan dalam keimanan yang kuat itu timbul kegigihan dalam menjayakan Islam dan mengembangkannya sampai ianya tersebar di dunia.
· Selain daripada perpaduan, persaudaraan dan kerjasama yang timbul hasil daripada semangat keagamaanyang murni, Ibn Khaldun rh dalam ‘al-Muqaddimah”nya memberi huraian pada beberapa tempat dalam teksnya itu kepentingan “al-‘asabiyah” atau kesetiakawanan yang positif yang menjadi syarat bagi menjayakan agama dan tamaddun dalam sejarah manusia. (sumber)

hiasan cuma


. SAHABAT CAKAP “KAMI BELAJAR IMAN DAHULU BARULAH KAMI BELAJAR QURAN”.







                     Selingan:  tuan haji syahrul nizam junaini,seorang motivator  dari UNIMAS yang kadang- kadang kita jumpa di Program motivasi pagi TV3 (BLOG BELIAU) .. di awal pagi rancangan ni kawan terlopong di depan kaca TV bila tengok seorang motivator memberi bayan tentang 6 sifat sahabat yang unggul..terkesima.fuh,simple dan padat. Sebab apa ?6 sifat sahabat yang digali oleh ulama adalah lengkap. Wallahi, inilah motivasi yang bermakna untuk semua ummat Nabi SAW.


Assalamulaikum semua. iman sihat? 

Tidak syak lagi korang semua dah biasa dengar ayat kat tajuk di atas  dalam beberapa penerangan yang menitikberatkan pentingnya iman dan amal. Jadi seperti kawan juga selalu dengar ayat ni. Hinggalah satu hari kawan terbaca dalam himpunan bayan (penerangan) tentang usaha dakwah yang disampaikan oleh ulama yang menghabiskan masa mereka di jalan Allah. Dan kawan berasa penting supaya apa perkataan sahabat dapat kawan dan seluruh ummat nabi Saw amalkan.  Tak kira la parti apepon..
  • Dakwah iman bukan untuk orang lain. Dakwah iman kepada orang lain juga. 
  • Orang lain diseru kepada Islam .  Kita dakwah Islam kepada orang bukan Islam kepada orang lain bilamana Islam masuk secara  keseluruhannya dalam diri orang Islam sendiri.
  •  Maka barulah orang kafir akan datang kepada orang Islam.
  •  Orang lain akan datang kepada Islam bilamana iman orang beriman telah sempurna. Islam adalah tempat zahir Iman. Kalau iman tiada , maka Islam pun tiada. Iman dulu barulah Islam. 
  • Sahabat kata “KAMI BELAJAR IMAN DAHULU BARULAH KAMI BELAJAR QURAN”.
  • Dalam istilah Quran , alim adalah yakin, ‘ahlul ilm’  ahlul yakin, dalam Quran ada ayat mengatakan tentang perkara ini.
  •  Orang Islam pada zaman dahulu pernah berkata , “kalaulah kami dapat harta seperti  Qarun” . 
  • Dalam ayat ini maksud orang yang berilmu adalah orang yang ada yakin. Umar telah terfikir “Kalaulah kita dapat seperti Kaisar dan Kisra”. 
  • Maka Nabi SAW telah marah. “wahai anak Khattab , adakah kamu masih menaruh perasaan syak lagi, Allah SWT telah jadikan dunia untuk mereka tetapi kita Allah SWT telah sediakan akhirat.
  • Dalam istilah Quran, ahli Ilm adalah ahli yakin.  “KAMI BELAJAR IMAN DAHULU BARULAH KAMI BELAJAR QURAN” bukannya maksud mereka tidak belajar langsung baca  Quran , mereka boleh baca Quran tetapi yang hendak dimaksudkan adalah bagaimana hendak yakin dengan janji –janji Allah dalam Quran.
  •  Mengharamkan apa yang haram dalam Quran dan menghalalkan apa yang dihalalkan dalam Quran. Menganggap apa yang haram dalam Quran adalah haram.  Inilah yang dimaksudkan dengan ‘ taklamanal Quran’. Sekarang ini kita faham apa yang terkandung dalam Al- Quran adalah kitabullah . Dalam rukun Iman, kita telah iqrar bahawa Quran adalah kitabullah
  • Dalam rukun iman kita iqrar tentang kewujudan Malaikat . Dengan kita ikrar perkara ini barulah boleh jadi orang Islam . 
  • Baru jadi Islam sahaja . Dengan ikrar perkara ini baru kita anggap seseorang itu sudah jadi orang Islam iaitu beriman kepada Allah , beriman pada Malaikat, beriman kepada kitab- kitab,beriman pada rasaul, beriman kepada  hari Qiamat dan beriman kepada Qada dan Qadar. 
  • Bertentangan dengan orang –orang kafir, mereka mengingkari kewujudan malaikat, merelka tidak percaya qada dan qadar. 
  • Maksud daripada ikrar ini adalah yang terima perkara ini telah beriman kepada Allah ,beriman kepada rasul .
  •  Sekarang ini kita hanya terima sahaja , Allah ada? Ada..Malaikat ada? Ada . beriman kepada Quran sebenarnya kita  ialah segala apa yang diharamkan dalam Quran  adalah haram.
  •  Oleh sebab telah haram maka kita hendaklah menghindarkan diri daripada perkara itu. Inilah baru dianggap kita telah beriman kepada Quran.
         (Hadrat Maulana Saad Damat Barkatohum, Mesyuarat Malaysia 2000)


Friday, August 5, 2011

KISAH SITI ZUBAIDAH

sekadar hiasan




Salam ramadhan..penulis pada waktu ini sedang mendengar satu penerangan iman dan amal melalui radio islam nusantara. (CEPAT LA KLIK!)


Penerangan ini diberikan oleh Ustaz Mansur ,salah seorang tenaga pengajar di MUSP.


Dan di dalam penerangan tersebut beliau ada menceritakan perihal satu kisah yang mulia iaitu kisah Siti Zubaidah.


siapa ekk Siti Zubaidah?

haaa..


cerita ni penulis mungkin pernah dengar satu masa dahulu, tapi ye  la kan , asbab kita tak amek ibrah, kita pun lupa kisah yang mulia ni. 

Siti Zubaidah  ~ tokoh   pembangunan yang berwawasan

Dia seorang lagi serikandi Islam yang cukup terkenal   dari dahulu sehingga kini. Dia juga turut dikaitkan dengan terusan yang cukup   pernting dan popular serta menjadi nadi kepada umat Islam, terutama yang datang ke Mekah untuk mengerjakan haji.

Terusan yang dibina  kira-kira 1400 tahun dahulu itu adalah hasil dari inisiatif seorang wanita hartawan,   Siti Zubaidah binti Jaafar. Jasanya terutama dalam pembangunan infrastruktur   di zaman kerajaan Abasiah. Terusan tersebut menjadi nadi penting pada masa   itu.

Kisah wanita ini amat   menarik untuk ditatapi oleh pembaca, bukan kerana dia isteri Khalifah Harun   Al-Rashid, tetapi dikagumi kerana kepintaran dan wawasannya membina kemudahan   infrastruktur negara.

Perkahwinan Siti Zubaidah  dan Khalifah Harun diadakan secara besar-besaran semasa pemerintahan  Al-Mahadi, ayahanda kepada Khalifah Harun. Rakyat jelata dan fakir miskin  dihidangkan dengan pelbagai hidangan lazat serta diberikan pelbagai hadiah  istimewa di majlis itu.

Khalifah Harun yang pada  masa itu belum dilantik sebagai Khalifah sanggup membelanjakan banyak wang  untuk meraikan perkahwinannya. Beliau sanggup melakukan apa sahaja kerana  terlalu gembira berjaya memiliki wanita idaman.

Siti Zubaidah seorang  wanita yang pintar dan berpandangan luas. Justeru pendapatnya sentiasa  diterima dan dihormati. Selain itu di juga berbakat dalam bidang seni terutama   sajak dan syair berunsur perjuangan, puji-pujian kepada Tuhan, selawat ke   atas Nabi dan sebagainya.

Aktiviti seni dan budaya  menjadi sebahagian dari darah dagingnya. Di juga mempunyai dan memimpin unit   kebudayaan di bawah pimpinannya.

Selain itu di juga isteri  yang memahami tugas dan tanggungjawab suami sebagai pejuang Islam. Untuk itu  dia sentiasa berjalan seiring dengan perjuangan suami kerana menyedari tenaga   wanita sepertinya turut diperlukan dalam perkembangan negara Islam.

Dia juga sedar bahawa  tugas sebagai pemipin bukan satu tugas yang mudah dan tugas isteri jua bukan  sekadar ibu rumahtangga, tetapi mendampingi, memberikan buah fikiran dan   membantu tugas-tugas suami terutama dalam meningkat imej negara dan agama  Islam.

Bagi memastikan  segala-galanya berjalan lancar, Siti Zubaidah begitu berhati-hati mengatur  hidupnya menguruskan rumahtangga dan menghibur suami serta anak-anak yang   bakal dilahirkan.

Dia sedar sebagai isteri  Khalifah, dia perlu cepat bertindak dan bijak membuat keputusan, berwaspada dalam  semua keadaan, membataskan diri dengan hukum-hukum syarak serta berkorban apa  sahaja untuk suami walaupun terpaksa mengorbankan perasaannya sendiri. Yang  penting baginya biarlah suami mendapat layanan terbaik dan istimewa serta  sentiasa dilimpahi kegembiraan.

Walaupun hidupnya   dilimpahi kekayaan, tetapi wanita ini sentiasa memastikan dia tidak termakan   dengan pujukan syaitan. Dia beranggapan kekayaan di dunia cuma sementera dan  sekiranya dilaburkan mengikut cara yang betul akan mendapat keberkatan di akhirat   kelak, manakala kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal, indah dan   terlalu manis. Keindahan dan kemanisan itulah yang dicari.

Idea untuk membina   terusan tersebut terdetik apabila mendapat tahu bahawa penduduk di Mekah  menghadapi masalah kekurangan air ketika mengerjakan haji pada tahun 186   hijrah. Melihat keadaan itu, dia  mengarahkan semua arkitek dan pekerja untuk segera melaksanakan pembinaan   projek terusan walaupun terpaksa menanggung perbelanjaan yang besar.

Mereka memulakan   kerja-kerja tersebut dengan menyambungkan mata air dari gunung-gunung di  sekitar Mekah. Projek ini menelan belanja 1,700,000 dinar. Ia masih beleh   digunakan oleh sesiapa sahaja yang melalui jalan di antara Mekah dan Mina. Selain itu dia juga turut  memperbaiki jalan di antara Baghdad ke Mekah. Di sepanjang jalan   dibina perigi-perigi dan rumah-rumah persinggahan untuk memudahkan orang
ramai yang datang ke Mekah berehat.

Selain itu di Baghdad juga terdapat sebuah masjid  terkenal dan dinamakan masjid Siti Zubaidah kerana dia yang bertanggungjawab   membinanya

Khalifah Harun Al-Rashid   amat gembira dan berasa bertuah kerana mempunyai isteri yang cantik dan  bijak. Pasangan ini sering berbincang dan bertukar pandangan. Pendapat Siti  Zubaidah selalu tepat dan sesuai untuk pembangunan semua golongan.

Tentang penglibatan dalam   politik, dia tidak bermaksud untuk mencampuri urusan tersebut, tetapi mahukan  anak sulungnya, Al-Amin dilantik sebagai Putera Mahkota, tetapi cadangan ini  telah dibantah oleh Khalifah Harun Al-Rashid.

"Wahai Zubaidah,  sesungguhnya kelebihan anakmu dihadapanmu adalah sama seperti keindahan  seorang anak di mata ibu bapanya. Bertakwalah kepada Allah, sebenarnya demi   Allah, anakmu ini lebih aku kasihi dari lain-lain. Tetapi perkara  ini adalah perkara pemerintahan, tidak boleh diserahkan, melainkan kepada  orang yang berhak. Kita semua bertanggungjawab kepada rakyat jelata dan   berdosa jika kita cuai. Kita tentu tidak sanggup menemui Allah dengan  menanggung dosa-dosa mereka serta dipertanggungjawabkan atas kesalahan-kesalahan  mereka." Kata Khalifah.

Setelah mendengar   kata-kata suami tersayang, Siti Zubaidah tidak membantah. Bagaimanapun  sejarah kemudian menyaksikan Al Amin dilantik dan diberikan jawatan itu   selepas kemangkatan Khalifah. Dia kemudian digulingkan dan dihukum bunuh  setelah gagal melaksanakan tugas dengan baik. Tempatnya diganti oleh Al   Makmum.

Siti Zubaidah menyaksikan  semua itu dengan hati yang hancur luluh. Tetapi apabila mengingatkan  kata-kata arwah suami, jiwanya kembali tenang. Dalam masa yang sama ada yang cuba menghasut supaya menuntut bela ke  atas pembunuhan tersebut, tetapi dia berjaya mengenepikan hasutan tersebut.  Baginya Al Makmum tidak bersalah dan dia kenal siapa anaknya dan siapa Al    Makmum.

Sejak itu wanita ini   menghabiskan sisa-sisa hidup dengan memperbanyakkan ibadat, berzikir serta  memohon keampunan di atas dosa-dosa yang lalu. Dia juga menjadi tumpuan, tempat rujukan dan pertanyaan mengenai hal-hal furuk dalam ajaran Islam.

Siti Zubaidah menyimpan  seramai 100 jariah yang menghafaz al-Quran. Dia meninggal dunia pada 216 Hijrah di Baghdad.

Kitab Riadhus Salikin  menceritakan bahawa selepas beberapa malam setelah kematian Siti Zubaidah, seorang  soleh yang bertaraf wali Allah bermimpi melihatnya berada di   dalam syurga.

Wali Allah tersebut   bertanya, "Apakah amalan yang menyebabkan engkau memperolehi darjat   ini?"

"Tidak, bukan   itu. Aku memperolehi darjat ini kerana harta yang bercampur. Allah mengira   pahala dan mengampunkan segala dosaku kerana sewaktu aku mengadakan majlis   nyanyian dan bersyair, aku hentikan apabila suara muazzin melaungkan azan,   aku menyuruh semua jariahku berhenti dan menyambung kembali setelah azan   selesai. Itulah amal ibadat yang Allah terima dan nilai," kata Siti   Zubaidah.



dipetik dari http://halaqah.net/v10/index.php?topic=9557
(syukran, semoga penulis asal diberi hidayat utk mengamalkan keseluruhan agama)

subahanallah..apa dia amalan dia sehingga dia mendapat ganjaran syurga?
ustaz mansur bagitahu bukan kerana penginfaqan harta dia yang besar untuk membina terusan, tetapi kerana amalan dia menyahut penggilan azan..

ucapan sambil lewa

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails